Blog ..eee.. Wong "..Kere Aktif..."
"Assalamualaikum War Wb...."
Selamat Datang Di Blog Saya..
Saya Ucapkan Terima Kasih Telah Berkunjung Di Forum Ini
Semoga Ada Jalinan Pesaudaraan Dan Persahabatan Diantara Kita...
Saya Ucapkan Terima Kasih Telah Berkunjung Di Forum Ini
Semoga Ada Jalinan Pesaudaraan Dan Persahabatan Diantara Kita...
Sabtu, 26 Maret 2011
Berlindunglah Pada Allah Dari Bisikan Syaitan
Berlindunglah Pada Allah Dari Bisikan Syaitan
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW :
Bisa saja syaitan datang diantara kalian dan membisikkan: siapa yang mencipta ini?, siapa yang mencipta itu?, hingga syaitan berkata: siapa yang mencipta Tuhan Mu? Jika sampai pada hal itu maka berlindunglah (Ta'awwudz) pada Allah, dan hentikan pemikiran itu” (Shahih Bukhari)
Sang Nabi SAW mengajari kita lewat hadits ini. Syaitan itu bisa datang berusaha untuk menipu kita, seakan – akan bisikan yang baik awalnya tapi akhirnya jahat. Syaitan berkata “man khalaqa kadza?” siapa yang membuat seperti ini? Jawaban kita “Allah”. Siapa yang membuat siang bisa terbit, bumi berputar? Jawaban kita “Allah Allah Allah”. Terus syaitan bertanya “man khalaqa kadza?” siapa yang mencipta begini? “man khalaqa kadza?” siapa yang mencipta begitu? Siapa yang mencipta manusia dari sperma menjadi manusia yang sempurna? Jawaban kita “Allah Allah”.
Lalu syaitan menjebak kita dengan pertanyaan “man khalaqa Rabb? Siapa yang menciptakan Allah? Syaitan membenturkan logika kepada iman, ketika iman dibenturkan kepada logika. Inilah jahatnya syaitan yang diperingatkan oleh Sayyidina Muhammad SAW. Rasul SAW sudah tahu ini tipuan syaitan yang akan berbuat begitu. Jadi Rasul SAW berkata “kalau sampai ada dihatimu perkataan “siapa yang menciptakan Tuhanmu?”, “falyasta’idz billah walyantahi” maka segeralah berlindung kepada Allah dan berhentilah dari pemikiranmu. Karena pemikiranmu sudah dimasuki syaitan. Seperti ini kalau seandainya kita berfikir “kok disuruh jangan berfikir?” orang bertanya tentang Tuhanku? “boleh boleh” tapi kalau sampai pada pertanyaan siapa yang mencipta Tuhanku? Tidak boleh berfikir lagi, berhentilah.
Kenapa tidak boleh memakai logikamu? Jawabannya kira – kira begini. Hal orang yang sudah ada yang lebih tahu padanya dan berpengalaman, jangan sesekali kita melanggarnya kalau orang itu sangat kita percaya. Kita punya teman, ini dari Sidney Australia Syekh Muhammad Abdullah. Misalnya kita datang ke Sidney, kita tidak tahu ada 10 makanan mana yang halal tapi ada satu yg haram, mana yang haram? Beliau berkata itu yang piringnya hijau boleh, yang piringnya merah boleh, yang piringnya kuning boleh, itu yang piringnya hitam jangan dimakan itu racun. Coba dengan logika kita, kita makan atau tidak makan? Tidak makan karena kita percaya kepada orang yang bicara. Yang mencobanya adalah orang yang bodoh dan orang yang mencobanya adalah orang yang terjerumus ke dalam jahatnya racun tersebut.
Demikian pula yang percaya kepada Sayyidina Muhammad SAW. Rasul berkata “kalau sudah alam pemikiranmu bertanya bagaimana penciptaan ini? bagaimana penciptaan itu? terus ikuti, boleh dalami boleh pelajari sampai kepada terbenturnya nanti syaitan berkata “siapa yang mencipta Tuhanmu?” Berhenti, kata Rasul. “falyasta’idz billah walyantahi”. Minta perlindungan kepada Allah, “wahai Allah lindungi aku dari kejahatan tipuan syaitan, tipuan – tipuan logika yang menjerumuskan aku dari kejauhan tauhid”. Jauhilah pemikiran - pemikiran itu, sebagaimana kita mendengar teman kita yang mengatakan itu racun, jangan dicoba karena kita percaya kepada teman kita. Dan orang yang paling berhak dipercaya adalah Sayyidina Muhammad SAW. Sudah banyak bukti – bukti bahwa sunnah beliau SAW adalah ajaran yang paling modern dari semua ajaran. Saya sudah banyak sampaikan kepada Saudara-saudara yang dimuliakan Allah.
ketika para pendosa mencari lagi cara kembali kepada pengampunan Illahi dan mereka dibentur oleh bisikan – bisikan syaitan yang mengatakan “betapa api neraka menantimu dan orang – orang sepertimu ini memang pantasnya di neraka, jangan sekali – kali berangan – angan bisa mencium bau surga”. Inilah bisikan – bisikan syaitan, jauhi itu dari kita karena rata-rata kita adalah pendosa. Beda kalau kita ini orang yang shalih, yang sudah siang dan malam tak pernah terlintas berbuat dosa apalagi memperbuatnya. Boleh berfikir “jangan – jangan amal pahalaku ini tidak diterima oleh Allah?” karena sudah banyak beramal. Kalau belum ada amalnya berfikir demikian maka ia menjatuhkan dirinya pada kehancuran. Beramal tidak, terus tenggelam dalam dosa.
Jadi ada hadits nabawiy dan ayat Alqur’an yang diperuntukkan bagi orang – orang yang sudah banyak sekali beramal. Ada tuntunan Illahiyah untuk mereka, sudah terlalu banyak amalnya kalau tidak dibimbing kepada hal – hal yang membuat mereka risau akan azab Allah, mereka akan sombong sedangkan mereka tidak akan bisa mencium surga adalah orang yang mempunyai sebutir debu sifat sombong dalam hatinya. Siapa orang yang punya sifat sombong dihadapan Allah? Orang yang merasa banyak beramal.
Kalau orang yang tidak punya amal, kerjanya siang dan malam adalah dosa, apa yang mau disombongkan dihadapan Allah Jalla Wa Alla? Allah ingin menyelamatkan itu maka turunlah tandzir (peringatan). Turunlah ayat – ayat yang bercerita tentang siksa Allah, kemurkaan Allah, azab Allah, kemarahan Allah. Kenapa? karena mereka sudah taat kepada Allah SWT, jangan sampai tergoda oleh syaitan. Kita orang yang siang dan malam penuh dosa, lantas kita terus mempelajari hal – hal seperti ini. Yang ada kita akan keluar dari Islam karena bisikan syaitan. wal iyya dzubillah. Daripada memilih agama model begini, lebih baik aku pilih agama yang lain saja. Susah – susah ibadah juga belum tentu diterima, susah – susah orang beramal pahala kalau ditakdirkan masuk neraka akan tetap masuk neraka. Akhirnya beramal tidak, taubat tidak, dosa terus berjalan, semakin jauh dari Islam dan inilah yang sangat dimurkai dan dirisaukan oleh Sayyidina Muhammad SAW.
Oleh sebab itu muncul kelompok muslimin dimasa sekarang ini yang sedikit – sedikit orang berbuat apa dikatakan syirik. Memuliakan ulama syirik, memuliakan shalihin syirik, ziarah syirik, terus muslimin ini bingung, harus berbuat apa? Sudah dijawab oleh Nabi Muhammad SAW, riwayat Shahih Bukhari “wallahi inniy laa akhaafu an tusyrikuu ba’di …” Demi Allah, aku tidak takut syirik menimpa kalian kaum muslimin namun kekayaan yang membuat kalian berebutan.
Maksudnya bukan tidak ada, banyak orang muslim yang keluar dari Islam tapi tidak dirisaukan oleh Sang Nabi SAW. Yang dirisaukan adalah kekayaan yang membuat kalian saling berebutan, saling hantam untuk memperebutkannya. Kita lihat negara muslim sekarang, yang paling kaya di dunia ini, berani membayar puluhan ribu orang – orang non muslim dari Amerika, dibayar untuk memerangi saudara muslimnya sendiri. Demi apa? Demi uang dan harta. Ini yang ditakutkan Sayyidina Muhammad SAW.
Oleh sebab itu teruslah mengalir dalam keindahan Illahi. Rasul SAW bersabda mengenai kemuliaan para shalihin. Jika kalian bersama para shalihin, perbanyak doa. Rasul SAW bersabda diriwayatkan oleh Imam Bukhari didalam kitabnya Adabul Mufrad “alaa unabbi’ukum bi khiyarikum?” maukah kalian kuberitahu orang yang paling baik diantara kalian? Siapa mereka ya Rasulullah? Rasul berkata “idza ru-uu dzukirallah” jika kalian lihat wajahnya, membuat kalian asyik dan ingat kepada Allah. Buat kalian ingin berbuat baik, wajah seperti itu, itulah orang – orang yang paling baik dari umatku, kata Rasul SAW.
Kamis, 10 Maret 2011
Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah
Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”
Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.
Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.” Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.
Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah. Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”
Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.
Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.
Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya.
Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.
Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak?
Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.
Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.
Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.
Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.
Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladani sikap Rasulullah.
Kamis, 24 Februari 2011
"..Kabar Dari Tebu Ireng.." Makam Gus Dur Ambles "
Makam Gus Dur Ambles, bertepatan Maulid Nabi - Akibat guyuran hujan deras tiga hari berturut-turut, makam mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, ambles. Yang mengagetkan, kain kafan yang membungkus jasad Gus Dur masih utuh dan putih, sehingga diduga jasad cucu pendiri NU itu juga masih utuh.
Hasan, seorang penjaga pos utama Ponpes Tebuireng, menyatakan peristiwa itu terjadi Selasa (15/2). Dia mengaku ikut menutupi lubang makam Gus Dur yang ambles dengan pasir dan tanah.
Di bawah guyuran hujan deras, dia mengaku bersama empat orang, termasuk Zainul, anaknya, melihat sesuatu yang ganjil. “Kami melihat kain kafan Gus Dur masih terlihat putih. Tetapi saya tidak berani cerita, bukan wewenang saya,” kata Hasan, Jumat (18/2).
Zainul, petugas keamanan pondok mengatakan, amblesnya makam Gus Dur terjadi siang hari saat pengunjung makam Gus Dur lumayan banyak.
Kejadian itu pun membuat penghuni ponpes kelabakan. Mereka ramai-ramai melihat kejadian tersebut. Sebuah lubang akibat gerusan air menganga sehingga menampakkan kain kafan pembungkus tubuh tokoh yang dikenal dengan berbagai anekdotnya ini. “Subhanallah, kain kafan Gus Dur masih utuh. Putih bersih seperti baru,” kata Zainul, Jumat (18/2).
Diungkapkan, kejadian itu pertama diketahui Waldi. “Namanya Pak Waldi, pedagang asongan yang biasa menjajakan VCD tentang Gus Dur,” imbuh Zainul.
Menurut Zainul, Waldi melaporkan kejadian itu kepadanya yang saat itu kebetulan berjaga di pos utara (pos pintu keluar masuk peziarah). Zainul pun segera menuju areal makam.
Selanjutnya, bersama beberapa orang dia menguruk lubang di makam itu dengan pasir dan tanah. Sementara penjaga dan pengurus pondok langsung membuat barisan menutupi lubang di pusara Gus Dur. Hal ini agar peziarah tak sampai mengambil gambar. Kabar itu sendiri terkesan disembunyikan oleh pengurus pondok lainnya.
Pengasuh Ponpes Tebuireng KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) membenarkan kejadian itu. Menurut adik Gus Dur ini, amblesan ini merupakan kali sekian mengingat makam itu masih berupa tanah, belum dilakukan pengkijingan (dicor). “Hujan sangat lebat, tanahnya ambles, biasa,” kata Gus Sholah ketika dihubungi, Jumat (18/2).
Pasca amblesnya makam Gus Dur, keluarga besar mantan Ketua Umum PBNU itu menggelar rapat di Jakarta. Sholahul Am Notobuwono (Gus A’am), anggota keluarga Bani Hasyim membenarkan fenomena itu sedang dibahas dalam keluarga besar Bani Hasyim. “Sekarang saya lagi di Jakarta dan keluarga besar sedang membahas masalah amblesnya makam Gus Dur,” terang Gus A’am, saat dihubungi via ponsel, Jumat (18/2) sore.
Ketua PC GP Ansor Jombang ini menginformasikan peristiwa amblesnya makam Gus Dur sengaja disembunyikan guna mencegah makin membludaknya peziarah ke makam cucu pendiri NU, KH Hasyim Asyari itu.
Terkait amblesnya makam Gus Dur, menurut Gus A’am, sebenarnya telah direspons langsung oleh dua putri Gus Dur, dengan mengunjungi makam ayahandanya itu, Selasa (15/2) malam. Kedua putri Gus Dur yang ke Tebuireng itu Inayah dan Alissa Qotrunnada. “Mereka datang hanya beberapa jam setelah makam ambles,” kata A’am.
Pengurus Ponpes Tebuireng Lukman Hakim membenarkan makam Gus Dur ambles, Selasa (15/2) lalu. “Yang saya tahu, itu terjadi Selasa, 15 Februari 2011 bertepatan Maulid Nabi,” kata Lukman, Jumat (18/2) sore. Saat itu peziarah membludak dan hujan turun cukup deras.
Amblesnya makam, menurut Lukman, karena air yang jatuh dari atap pendopo makam yang terus-menerus menggerus tanah di atas pusara. “Padahal, tanah urukan Gus Dur itu tidak dilakukan pemadatan karena tidak ada yang berani melakukannya. Karena kepadatan tanah urukan kurang, maka saat tergerus air terus-menerus menjadikan makam ambles,” kata Lukman.
Tapi dia tegas membantah jika amblesnya makam membuat jasad Gus Dur terlihat. “Kafannya saja tidak kelihatan, apalagi jasadnya,” tegas Lukman.
Disinggung adanya saksi mata mengaku melihat hal itu, Lukman bersikukuh itu tidak benar. “Itu bohong, yang ngomong begitu jelas bohong,” kata Lukman.
Yang jelas, untuk mengantisipasi terulangnya kejadian itu, makam Gus Dur kini dikelilingi tembok penahan sepanjang 11 meter, lebar 2,5 meter, dan tinggi sekitar 15 sentimeter. Proses pengerjaan hingga kemarin sore baru selesai 50 persen. “Ini agar air yang jatuh dari atap pendopo tidak langsung menggerus makam Gus Dur,” kata Lukman.
Bukti Kewalian
Kabar amblesnya makam Gus Dur dan memperlihatkan kain kafan yang masih putih bersih ditanggapi beragam. Munasir Huda, warga Desa Cukir, Kecamatan Diwek menyatakan fenomena seperti itu sangat mungkin terjadi pada Gus Dur. “Itu menunjukkan sifat kewalian Gus Dur,” kata Munasir Huda, Direktur LSM Alharaka.
“Kami mendengar jika jasad mendiang Gus Dur tidak hanya itu, malah saat ambles, tampak sinar muncul dari dalam tanah yang memancar dari jasad beliau,” tutur Munasir Huda.
Huda meyakini, fenomena itu bisa terjadi pada Gus Dur, yang wafat pada 30 Desember 2009. Sebab, sepak terjang dan perjuangan Gus Dur selama ini menunjukkan dirinya dekat dengan sifat wali. “Apalagi kejadian amblesnya makam hingga terlihatnya jasad Gus Dur yang masih utuh itu bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi. Allah itu Maha Besar. Kalau Allah berkehendak, apa yang tidak mungkin bisa terjadi. Ini menunjukkan sifat kewalian Gus Dur kian kentara,” katanya.
Ketua MUI Jombang KH Cholil Dahlan menyatakan, fenomena jasad utuh setelah dimakamkan bertahun-tahun bukan hal aneh. Sebab, dalam hadis antara lain sudah dinyatakan, Allah akan menjaga jasad orang tertentu dari dimakan tanah.
Orang-orang khusus atau tertentu itu, menurut KH Kholil, ciri-cirinya antara lain jasad orang yang hapal Alquran, sekaligus menjaga amalannya sesuai nilai-nilai Alquran itu.
“Sangat mungkin karena Gus Dur dikenal istikomah (konsisten) dalam menjalankan syariat Islam. Istikomah melakukan amalan sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam Alquran,” dalih KH Kholil.
Fenomena ini, menurutnya, akan memberikan pelajaran kepada yang hidup agar menjalankan amalan yang sesuai nilai-nilai Alquran.
Ahli Geologi Jogjakarta Agus Hendratno pernah menyatakan, dari teori geologi, bisa saja jasad yang dikubur akan tetap utuh. Penyebabnya mungkin saja di dalam tanah tidak terdapat hewan organik yang bisa mengubah jasad manusia, seperti kulit dan daging menjadi tanah.
“Sebenarnya peristiwa utuhnya jenazah masuk lebih kepada urusan spiritual. Tapi kalau mau dikaitkan dalam teori geologi, bisa saja di liang lahat itu tidak terdapat hewan organik,” urainya.
KH Said Budairy pernah membahas jasad yang diketahui masih utuh walau sudah meninggal beberapa tahun. Menurutnya, jasad itu dilindungi Allah. “Biasanya yang jasadnya seperti itu adalah orang-orang yang hafidz (hapal) Alquran dan alim,” jelasnya.
Sekadar diketahui, peristiwa jasad utuh tidak hanya dialami oleh Gus Dur. Agustus 2009, warga Tangerang dikagetkan ketika menyaksikan jasad Kiai Abdullah Mukmin masih utuh. Padahal usia jasad sudah 26 tahun. Kiai Abdullah adalah guru agama. Pada tahun 1950-an, setelah belajar di Darul Ulum, dia ke Makkah selama 25 tahun.
Peristiwa sama terjadi di Banjarmasin September 2009. Saat itu makam Murah bin Jamil dibongkar untuk dipindahkan. Pihak keluarga kaget, kondisi rangka, kulit, daging rambut dan gigi masih tetap terpasang. Padahal Murah bin Jamil telah meninggal 8 tahun sebelumnya.
“Beliau dikenal orang yang sederhana, baik hati dan perhatian dengan keluarga. Bahkan, beliau sayang dengan masyarakat sekitar,” kata seorang anggota keluarga, waktu itu.
Di Pekalongan, ada jasad dikubur lebih dari 30 tahun masih utuh. Bahkan kain kafan dan talinya tak rapuh. Sayangnya, warga tidak mengetahui nama dan ahli waris dari jenazah itu.
sumber tribunnews
Selasa, 15 Februari 2011
VALENTINE DAY (HARI BERKASIH SAYANG) Menurut pandangan Islam…
TAUKAH KITA APA ITU
VALENTINE DAY (HARI BERKASIH SAYANG)
Menurut pandangan Islam…
Benarkah ia hanya kasih sayang belaka ?
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, nescaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti prasangka belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (Surah Al-An’am : 116)
Hari 'kasih sayang' yang dirayakan oleh orang-orang Barat pada tahun-tahun terakhir disebut 'Valentine Day' amat popular dan merebak di pelusuk Indonesia bahkan di Malaysia juga. Lebih-lebih lagi apabila menjelangnya bulan Februari di mana banyak kita temui jargon-jargon (simbol-simbol atau iklan-iklan) tidak Islami hanya wujud demi untuk mengekspos (mempromosi) Valentine. Berbagai tempat hiburan bermula dari diskotik(disko/kelab malam), hotel-hotel, organisasi-organisasi mahupun kelompok-kelompok kecil; ramai yang berlumba-lumba menawarkan acara untuk merayakan Valentine. Dengan dukungan(pengaruh) media massa seperti surat kabar, radio mahupun televisyen; sebagian besar orang Islam juga turut dicekoki(dihidangkan) dengan iklan-iklan Valentine Day.
SEJARAH VALENTINE:
Sungguh merupakan hal yang ironis(menyedihkan/tidak sepatutnya terjadi) apabila telinga kita mendengar bahkan kita sendiri 'terjun' dalam perayaan Valentine tersebut tanpa mengetahui sejarah Valentine itu sendiri. Valentine sebenarnya adalah seorang martyr (dalam Islam disebut 'Syuhada') yang kerana kesalahan dan bersifat 'dermawan' maka dia diberi gelaran Saint atau Santo.
Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya (pertelingkahan) dengan penguasa Romawi pada waktu itu iaitu Raja Claudius II (268 - 270 M). Untuk mengagungkan dia (St. Valentine), yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cubaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai 'upacara keagamaan'.
Tetapi sejak abad 16 M, 'upacara keagamaan' tersebut mulai beransur-ansur hilang dan berubah menjadi 'perayaan bukan keagamaan'. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.
Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani(Kristian), pesta 'supercalis' kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai 'hari kasih sayang' juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu 'kasih sayang' itu mulai bersemi 'bagai burung jantan dan betina' pada tanggal 14 Februari.
Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang bererti 'galant atau cinta'. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang 'martyr' bernama St. Valentino mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya(jauh dari erti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang tidak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari Valentine. Di mana pada zaman sekarang ini orang mengenal Valentine lewat (melalui) greeting card, pesta persaudaraan, tukar kado(bertukar-tukar memberi hadiah) dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment(hal/saat/waktu) ini hanyalah tidak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merosak 'akidah' muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan(bertopengkan percintaan), perjodohan dan kasih sayang.
PANDANGAN ISLAM
Sebagai seorang muslim tanyakanlah pada diri kita sendiri, apakah kita akan mencontohi begitu saja sesuatu yang jelas bukan bersumber dari Islam ?
Mari kita renungkan firman Allah s.w.t.:
“ Dan janglah kamu megikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggung jawabnya”. (Surah Al-Isra : 36)
Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera(mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan(bila), bagaimana, dan di mana, akan tetapi lebih dari itu.
Oleh kerana itu Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng(mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.
Hadis Rasulullah s.a.w:“ Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu”.
Firman Allah s.w.t. dalam Surah AL Imran (keluarga Imran) ayat 85 :“Barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-sekali tidaklah diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”.
HAL-HAL YANG HARUS DIBERI PERHATIAN:-
Dalam masalah Valentine itu perlu difahami secara mendalam terutama dari kaca mata agama kerana kehidupan kita tidak dapat lari atau lepas dari agama (Islam) sebagai pandangan hidup. Berikut ini beberapa hal yang harus difahami di dalam masalah 'Valentine Day'.
1. PRINSIP / DASAR
Valentine Day adalah suatu perayaan yang berdasarkan kepada pesta jamuan 'supercalis' bangsa Romawi kuno di mana setelah mereka masuk Agama Nasrani (kristian), maka berubah menjadi 'acara keagamaan' yang dikaitkan dengan kematian St. Valentine.
2. SUMBER ASASI
Valentine jelas-jelas bukan bersumber dari Islam, melainkan bersumber dari rekaan fikiran manusia yang diteruskan oleh pihak gereja. Oleh kerana itu lah , berpegang kepada akal rasional manusia semata-mata, tetapi jika tidak berdasarkan kepada Islam(Allah), maka ia akan tertolak.
Firman Allah swt dalam Surah Al Baqarah ayat 120 :“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.
Katakanlah : “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemahuan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
3. TUJUAN
Tujuan mencipta dan mengungkapkan rasa kasih sayang di persada bumi adalah baik. Tetapi bukan seminit untuk sehari dan sehari untuk setahun. Dan bukan pula bererti kita harus berkiblat kepada Valentine seolah-olah meninggikan ajaran lain di atas Islam. Islam diutuskan kepada umatnya dengan memerintahkan umatnya untuk berkasih sayang dan menjalinkan persaudaraan yang abadi di bawah naungan Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Bahkan Rasulullah s.a.w. bersabda :“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga ia cinta kepada saudaranya seperti cintanya kepada diri sendiri”.
4. OPERASIONAL
Pada umumnya acara Valentine Day diadakan dalam bentuk pesta pora dan huru-hara.
Perhatikanlah firman Allah s.w.t.:“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (Surah Al Isra : 27)
Surah Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi : “…walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Sudah jelas ! Apapun alasannya, kita tidak dapat menerima kebudayaan import dari luar yang nyata-nyata bertentangan dengan keyakinan (akidah) kita. Janganlah kita mengotori akidah kita dengan dalih toleransi dan setia kawan. Kerana kalau dikata toleransi, Islamlah yang paling toleransi di dunia.
Sudah berapa jauhkah kita mengayunkan langkah mengelu-elukan(memuja-muja) Valentine Day ? Sudah semestinya kita menyedari sejak dini(saat ini), agar jangan sampai terperosok lebih jauh lagi. Tidak perlu kita irihati dan cemburu dengan upacara dan bentuk kasih sayang agama lain. Bukankah Allah itu Ar Rahman dan Ar Rohim. Bukan hanya sehari untuk setahun. Dan bukan pula dibungkus dengan hawa nafsu. Tetapi yang jelas kasih sayang di dalam Islam lebih luas dari semua itu. Bahkan Islam itu merupakan 'alternatif' terakhir setelah manusia gagal dengan sistem-sistem lain.
Lihatlah kebangkitan Islam!!! Lihatlah kerosakan-kerosakan yang ditampilkan oleh peradaban Barat baik dalam media massa, televisyen dan sebagainya. Karena sebenarnya Barat hanya mengenali perkara atau urusan yang bersifat materi. Hati mereka kosong dan mereka bagaikan 'robot' yang bernyawa.
MARI ISTIQOMAH (BERPEGANG TEGUH)
Perhatikanlah Firman Allah :
“…dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim”.
Semoga Allah memberikan kepada kita hidayahNya dan ketetapan hati untuk dapat istiqomah dengan Islam sehingga hati kita menerima kebenaran serta menjalankan ajarannya.
Tujuan dari semua itu adalah agar diri kita selalu taat sehingga dengan izin Allah s.w.t. kita dapat berjumpa dengan para Nabi baik Nabi Adam sampai Nabi Muhammad s.a.w.
Firman Allah s.w.t.:
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan RasulNya maka dia akan bersama orang-orang yang diberi nikmat dari golongan Nabi-Nabi, para shiddiq (benar imannya), syuhada, sholihin (orang-orang sholih), mereka itulah sebaik-baik teman”.
Berkata Peguam Zulkifli Nordin (peguam di Malaysia) di dalam kaset 'MURTAD' yang mafhumnya :-
"VALENTINE" adalah nama seorang paderi. Namanya Pedro St. Valentino. 14 Februari 1492 adalah hari kejatuhan Kerajaan Islam Sepanyol. Paderi ini umumkan atau isytiharkan hari tersebut sebagai hari 'kasih sayang' kerana pada nya Islam adalah ZALIM!!! Tumbangnya Kerajaan Islam Sepanyol dirayakan sebagai Hari Valentine. Semoga Anda Semua Ambil Pengajaran!!! Jadi.. mengapa kita ingin menyambut Hari Valentine ini kerana hari itu adalah hari jatuhnya kerajaan Islam kita di Sepanyol..
“SEBAGAI BAHAN PEMIKIRAN DAN BAHAN RENUNGAN
SEMOGA SEDIKIT BANYAK SEMUA INI BERMANFA’AT”
Jumat, 11 Februari 2011
Batu Terapung
Ini adalah salah satu bukti kebesaran Allah SWT,batu ini merupakan tempat duduk nabi Muhammad ketika isra’ mi’raj. Sampai sekarang batu itu masih tetap terapung di udara. Pada saat Nabi Muhammad hendak Mikraj batu tersebut ingin ikut bersama Nabi SAW, tetapi Nabi SAW menghentakkan kakinya agar batu tersebut tidak ikut Nabi melakukan mi’raj. Batu tersebut berada dalam masjid Umar (Dome of the Rock) di Lingkungan Masjidil ALAQSA di Yarusalem (Baitulmuqadis).
Foto ini didapat dari seorang hamba Allah sewaktu mengunjungi masjid Al Aqsa di Jerusalem, Subhanallah … !! Foto ini dapat lolos dari penjagaan pihak israel yang menjaga ketat tempat tersebut.
Sampai sekarang masjid “dome of rock”[Al Aqso] masih ditutup untuk umum, dan Yahudi telah membuat masjid lain yaitu Al Sakhra tak jauh di sebelahnya dengan kubah “emas” ( yg sering terlihat di poster2 yg disebarkan ke seluruh duniadi-mana2 ) dan disebut sebagai Al Aqsa, untuk mengelabui ummat Islam di mana masjid Al Aqsa yang sebenarnya. Mengenai masjid Al Aqso yang sebenarnya Nabi Muhammad SAW pernah menyebutnya sebagai “masjid kubah biru”. Sekarang ini masjid tersebut sebenarnya sudah diambil alih oleh Israel dan mereka berencana menghancurkannya untuk diganti sebagai tempat ibadah mereka karena masjid tersebut tempatnya bersebelahan dengan tembok ratapan bangsa Yahudi.
Foto ini didapat dari seorang hamba Allah sewaktu mengunjungi masjid Al Aqsa di Jerusalem, Subhanallah … !! Foto ini dapat lolos dari penjagaan pihak israel yang menjaga ketat tempat tersebut.
Sampai sekarang masjid “dome of rock”[Al Aqso] masih ditutup untuk umum, dan Yahudi telah membuat masjid lain yaitu Al Sakhra tak jauh di sebelahnya dengan kubah “emas” ( yg sering terlihat di poster2 yg disebarkan ke seluruh duniadi-mana2 ) dan disebut sebagai Al Aqsa, untuk mengelabui ummat Islam di mana masjid Al Aqsa yang sebenarnya. Mengenai masjid Al Aqso yang sebenarnya Nabi Muhammad SAW pernah menyebutnya sebagai “masjid kubah biru”. Sekarang ini masjid tersebut sebenarnya sudah diambil alih oleh Israel dan mereka berencana menghancurkannya untuk diganti sebagai tempat ibadah mereka karena masjid tersebut tempatnya bersebelahan dengan tembok ratapan bangsa Yahudi.
Langganan:
Postingan (Atom)





