"Assalamualaikum War Wb...."
Selamat Datang Di Blog Saya..
Saya Ucapkan Terima Kasih Telah Berkunjung Di Forum Ini
Semoga Ada Jalinan Pesaudaraan Dan Persahabatan Diantara Kita...
Saya Ucapkan Terima Kasih Telah Berkunjung Di Forum Ini
Semoga Ada Jalinan Pesaudaraan Dan Persahabatan Diantara Kita...
Sabtu, 26 Maret 2011
Berlindunglah Pada Allah Dari Bisikan Syaitan
Berlindunglah Pada Allah Dari Bisikan Syaitan
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَأْتِي الشَّيْطَانُ أَحَدَكُمْ فَيَقُولُ مَنْ خَلَقَ كَذَا مَنْ خَلَقَ كَذَا حَتَّى يَقُولَ مَنْ خَلَقَ رَبَّكَ فَإِذَا بَلَغَهُ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ وَلْيَنْتَهِ
(صحيح البخاري)
Sabda Rasulullah SAW :
Bisa saja syaitan datang diantara kalian dan membisikkan: siapa yang mencipta ini?, siapa yang mencipta itu?, hingga syaitan berkata: siapa yang mencipta Tuhan Mu? Jika sampai pada hal itu maka berlindunglah (Ta'awwudz) pada Allah, dan hentikan pemikiran itu” (Shahih Bukhari)
Sang Nabi SAW mengajari kita lewat hadits ini. Syaitan itu bisa datang berusaha untuk menipu kita, seakan – akan bisikan yang baik awalnya tapi akhirnya jahat. Syaitan berkata “man khalaqa kadza?” siapa yang membuat seperti ini? Jawaban kita “Allah”. Siapa yang membuat siang bisa terbit, bumi berputar? Jawaban kita “Allah Allah Allah”. Terus syaitan bertanya “man khalaqa kadza?” siapa yang mencipta begini? “man khalaqa kadza?” siapa yang mencipta begitu? Siapa yang mencipta manusia dari sperma menjadi manusia yang sempurna? Jawaban kita “Allah Allah”.
Lalu syaitan menjebak kita dengan pertanyaan “man khalaqa Rabb? Siapa yang menciptakan Allah? Syaitan membenturkan logika kepada iman, ketika iman dibenturkan kepada logika. Inilah jahatnya syaitan yang diperingatkan oleh Sayyidina Muhammad SAW. Rasul SAW sudah tahu ini tipuan syaitan yang akan berbuat begitu. Jadi Rasul SAW berkata “kalau sampai ada dihatimu perkataan “siapa yang menciptakan Tuhanmu?”, “falyasta’idz billah walyantahi” maka segeralah berlindung kepada Allah dan berhentilah dari pemikiranmu. Karena pemikiranmu sudah dimasuki syaitan. Seperti ini kalau seandainya kita berfikir “kok disuruh jangan berfikir?” orang bertanya tentang Tuhanku? “boleh boleh” tapi kalau sampai pada pertanyaan siapa yang mencipta Tuhanku? Tidak boleh berfikir lagi, berhentilah.
Kenapa tidak boleh memakai logikamu? Jawabannya kira – kira begini. Hal orang yang sudah ada yang lebih tahu padanya dan berpengalaman, jangan sesekali kita melanggarnya kalau orang itu sangat kita percaya. Kita punya teman, ini dari Sidney Australia Syekh Muhammad Abdullah. Misalnya kita datang ke Sidney, kita tidak tahu ada 10 makanan mana yang halal tapi ada satu yg haram, mana yang haram? Beliau berkata itu yang piringnya hijau boleh, yang piringnya merah boleh, yang piringnya kuning boleh, itu yang piringnya hitam jangan dimakan itu racun. Coba dengan logika kita, kita makan atau tidak makan? Tidak makan karena kita percaya kepada orang yang bicara. Yang mencobanya adalah orang yang bodoh dan orang yang mencobanya adalah orang yang terjerumus ke dalam jahatnya racun tersebut.
Demikian pula yang percaya kepada Sayyidina Muhammad SAW. Rasul berkata “kalau sudah alam pemikiranmu bertanya bagaimana penciptaan ini? bagaimana penciptaan itu? terus ikuti, boleh dalami boleh pelajari sampai kepada terbenturnya nanti syaitan berkata “siapa yang mencipta Tuhanmu?” Berhenti, kata Rasul. “falyasta’idz billah walyantahi”. Minta perlindungan kepada Allah, “wahai Allah lindungi aku dari kejahatan tipuan syaitan, tipuan – tipuan logika yang menjerumuskan aku dari kejauhan tauhid”. Jauhilah pemikiran - pemikiran itu, sebagaimana kita mendengar teman kita yang mengatakan itu racun, jangan dicoba karena kita percaya kepada teman kita. Dan orang yang paling berhak dipercaya adalah Sayyidina Muhammad SAW. Sudah banyak bukti – bukti bahwa sunnah beliau SAW adalah ajaran yang paling modern dari semua ajaran. Saya sudah banyak sampaikan kepada Saudara-saudara yang dimuliakan Allah.
ketika para pendosa mencari lagi cara kembali kepada pengampunan Illahi dan mereka dibentur oleh bisikan – bisikan syaitan yang mengatakan “betapa api neraka menantimu dan orang – orang sepertimu ini memang pantasnya di neraka, jangan sekali – kali berangan – angan bisa mencium bau surga”. Inilah bisikan – bisikan syaitan, jauhi itu dari kita karena rata-rata kita adalah pendosa. Beda kalau kita ini orang yang shalih, yang sudah siang dan malam tak pernah terlintas berbuat dosa apalagi memperbuatnya. Boleh berfikir “jangan – jangan amal pahalaku ini tidak diterima oleh Allah?” karena sudah banyak beramal. Kalau belum ada amalnya berfikir demikian maka ia menjatuhkan dirinya pada kehancuran. Beramal tidak, terus tenggelam dalam dosa.
Jadi ada hadits nabawiy dan ayat Alqur’an yang diperuntukkan bagi orang – orang yang sudah banyak sekali beramal. Ada tuntunan Illahiyah untuk mereka, sudah terlalu banyak amalnya kalau tidak dibimbing kepada hal – hal yang membuat mereka risau akan azab Allah, mereka akan sombong sedangkan mereka tidak akan bisa mencium surga adalah orang yang mempunyai sebutir debu sifat sombong dalam hatinya. Siapa orang yang punya sifat sombong dihadapan Allah? Orang yang merasa banyak beramal.
Kalau orang yang tidak punya amal, kerjanya siang dan malam adalah dosa, apa yang mau disombongkan dihadapan Allah Jalla Wa Alla? Allah ingin menyelamatkan itu maka turunlah tandzir (peringatan). Turunlah ayat – ayat yang bercerita tentang siksa Allah, kemurkaan Allah, azab Allah, kemarahan Allah. Kenapa? karena mereka sudah taat kepada Allah SWT, jangan sampai tergoda oleh syaitan. Kita orang yang siang dan malam penuh dosa, lantas kita terus mempelajari hal – hal seperti ini. Yang ada kita akan keluar dari Islam karena bisikan syaitan. wal iyya dzubillah. Daripada memilih agama model begini, lebih baik aku pilih agama yang lain saja. Susah – susah ibadah juga belum tentu diterima, susah – susah orang beramal pahala kalau ditakdirkan masuk neraka akan tetap masuk neraka. Akhirnya beramal tidak, taubat tidak, dosa terus berjalan, semakin jauh dari Islam dan inilah yang sangat dimurkai dan dirisaukan oleh Sayyidina Muhammad SAW.
Oleh sebab itu muncul kelompok muslimin dimasa sekarang ini yang sedikit – sedikit orang berbuat apa dikatakan syirik. Memuliakan ulama syirik, memuliakan shalihin syirik, ziarah syirik, terus muslimin ini bingung, harus berbuat apa? Sudah dijawab oleh Nabi Muhammad SAW, riwayat Shahih Bukhari “wallahi inniy laa akhaafu an tusyrikuu ba’di …” Demi Allah, aku tidak takut syirik menimpa kalian kaum muslimin namun kekayaan yang membuat kalian berebutan.
Maksudnya bukan tidak ada, banyak orang muslim yang keluar dari Islam tapi tidak dirisaukan oleh Sang Nabi SAW. Yang dirisaukan adalah kekayaan yang membuat kalian saling berebutan, saling hantam untuk memperebutkannya. Kita lihat negara muslim sekarang, yang paling kaya di dunia ini, berani membayar puluhan ribu orang – orang non muslim dari Amerika, dibayar untuk memerangi saudara muslimnya sendiri. Demi apa? Demi uang dan harta. Ini yang ditakutkan Sayyidina Muhammad SAW.
Oleh sebab itu teruslah mengalir dalam keindahan Illahi. Rasul SAW bersabda mengenai kemuliaan para shalihin. Jika kalian bersama para shalihin, perbanyak doa. Rasul SAW bersabda diriwayatkan oleh Imam Bukhari didalam kitabnya Adabul Mufrad “alaa unabbi’ukum bi khiyarikum?” maukah kalian kuberitahu orang yang paling baik diantara kalian? Siapa mereka ya Rasulullah? Rasul berkata “idza ru-uu dzukirallah” jika kalian lihat wajahnya, membuat kalian asyik dan ingat kepada Allah. Buat kalian ingin berbuat baik, wajah seperti itu, itulah orang – orang yang paling baik dari umatku, kata Rasul SAW.
Kamis, 10 Maret 2011
Nabi Palsu, Sikap Nabi, dan Ahmadiyah
Pada tahun kesepuluh Hijriah, Nabi Muhammad SAW menerima surat dari seseorang yang mengaku jadi nabi. Namanya Musailamah bin Habib, petinggi Bani Hanifah, salah satu suku Arab yang menguasai hampir seluruh kawasan Yamamah (sekarang sekitar Al-Riyad). Dalam suratnya, Musailamah berujar: “Dari Musailamah, utusan Allah, untuk Muhammad, utusan Allah. Saya adalah partner Anda dalam kenabian. Separuh bumi semestinya menjadi wilayah kekuasaanku, dan separuhnya yang lain kekuasaanmu….”
Seperti dituturkan ahli tafsir dan sejarawan muslim terkemuka pada abad ketiga Hijriah, Imam Ibn Jarir Al-Tabari (838-923), dalam kitabnya Tarikh al-Rusul wa al-Muluk (Sejarah Para Rasul dan Raja) atau yang dikenal sebagai Tarikh al-Tabari, Musailamah bukanlah sosok yang sepenuhnya asing bagi Nabi. Beberapa bulan sebelum berkirim surat, Musailamah ikut dalam delegasi dari Yamamah yang menemui beliau di Madinah dan bersaksi atas kerasulannya. Delegasi inilah yang kemudian membawa Islam ke wilayah asal mereka dan membangun masjid di sana.
Menerima surat dari Musailamah yang mengaku nabi, Rasul tidak lantas memaksanya menyatakan diri keluar dari Islam dan mendirikan agama baru, apalagi memeranginya. Padahal gampang saja kalau beliau mau, karena saat itu kekuatan kaum muslim di Madinah nyaris tak tertandingi. Mekah saja, yang tadinya menjadi markas para musuh bebuyutan Nabi, jatuh ke pelukan Islam. Yang dilakukan Rasul hanyalah mengirim surat balasan ke Musailamah: “Dengan Nama Allah Yang Maha Pemurah dan Pengasih. Dari Muhammad, utusan Allah, ke Musailamah sang pendusta (al-kazzab). Bumi seluruhnya milik Allah. Allah menganugerahkannya kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Keselamatan hanyalah bagi mereka yang berada di jalan yang lurus.” Rasul menempuh dakwah dengan cara persuasi dan bukan cara kekerasan. Musailamah memang dikutuk sebagai al-Kazzab, tapi keberadaannya tidak dimusnahkan.
Namun, setelah Nabi wafat, ceritanya jadi lain. Umat Islam yang masih shocked karena ditinggal pemimpinnya berada dalam ancaman disintegrasi. Sejumlah suku Arab menyatakan memisahkan diri dari komunitas Islam di bawah pimpinan khalifah pertama, Abu Bakr al-Shiddiq. Sebagian dari mereka mengangkat nabi baru sebagai pemimpin untuk kelompok mereka sendiri. Musailamah dan sejumlah nabi palsu lain, seperti Al-Aswad dari Yaman dan Tulaikhah bin Khuwailid dari Bani As’ad, menyatakan menolak membayar zakat, suatu tindakan yang pada masa itu melambangkan pembangkangan terhadap pemerintah pusat di Madinah. Abu Bakr lalu melancarkan ekspedisi militer untuk menumpas gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu tersebut, yang menurut dia telah merongrong kedaulatan khalifah dan membahayakan kesatuan umat. Perang Abu Bakr ini dikenal sebagai “perang melawan kemurtadan (hurub al-ridda).”
Tampaknya, “perang melawan kemurtadan” inilah yang diadopsi begitu saja oleh para pelaku kekerasan terhadap Ahmadiyah tanpa disertai pemahaman yang mumpuni terhadap duduk perkaranya. Penyerangan brutal di Banten minggu lalu, yang menewaskan tiga warga Ahmadiyah, secara luas memang telah dikecam bahkan oleh banyak kalangan muslim sendiri, entah dengan alasan menodai citra Islam yang damai, merusak kerukunan beragama, atau melanggar hak asasi kaum minoritas. Tapi bagi para pelaku penyerangan dan yang membenarkannya, seperti FPI, apa yang mereka lakukan semata-mata demi membela Islam dari noda pemurtadan. Jemaah Ahmadiyah dianggap telah murtad karena mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, dan karena itu mesti dikeluarkan secara paksa dari Islam.
Ironisnya, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Menteri Agama, dan pihak-pihak yang mengaku tidak menyetujui anarkisme terhadap Ahmadiyah, yang terus memaksa agar Ahmadiyah menjadi agama baru di luar Islam, sebenarnya juga memakai pendekatan “perang melawan kemurtadan” secara gegabah. Dalam hal ini, perbedaan MUI dan Menteri Agama dengan kaum penyerang Ahmadiyah hanya terletak dalam hal metode, tapi tidak dalam tujuan. Saya sebut ironis karena majelis ulama, yang berlabel “Indonesia” di belakang, ternyata merubuhkan prinsip kebinekaan Indonesia. Ironis karena seorang menteri yang merupakan hasil pemilu demokratis ternyata mempunyai pandangan yang melenceng dari konstitusi demokratis yang menjamin hak setiap warga menjalankan agama sesuai dengan keyakinannya. Yang paling ironis, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membiarkan saja semua itu terjadi.
Lepas dari itu, kalau kita tinjau dari sudut doktrin dan sejarah Islam pun, pemakaian kerangka “perang melawan pemurtadan” untuk menyikapi Ahmadiyah sejatinya sama sekali tak berdasar. Patut diingat, sebutan “perang melawan kemurtadan” bukanlah kreasi Abu Bakr sendiri, melainkan penamaan belakangan dari para sejarawan muslim. Disebut demikian barangkali karena yang diperangi saat itu memang arus pemurtadan yang terkait dengan munculnya sejumlah nabi palsu. Dan gerakan nabi palsu pada masa itu berjalin berkelindan dengan upaya menggembosi kedaulatan kekhalifahan. Penolakan membayar zakat bukan hanya pelanggaran terhadap rukun Islam, tapi juga sebentuk aksi makar. Ini karena, berbeda dengan ibadah salat yang hanya melulu menyangkut hubungan hamba dan Tuhannya, urusan zakat berkaitan dengan negara. Tambahan pula, para nabi palsu tersebut juga membangun kekuatan militernya sendiri. Musailamah, misalnya, menggalang tidak kurang dari 40 ribu anggota pasukan untuk melawan pasukan muslim dalam perang Yamamah, sampai-sampai armada muslim di bawah Khalid bin Walid sempat kewalahan pada awalnya.
Karena itu, perang Abu Bakr melawan kemurtadan mesti dibaca sebagai sebuah tindakan yang lebih bersifat politis ketimbang teologis, yakni berhubungan dengan penumpasan terhadap kelompok pemberontak.
Karena itu, “perang melawan kemurtadan” versi khalifah Abu Bakr tidak bisa begitu saja diterapkan dalam konteks Indonesia sekarang. Taruhlah memang jemaah Ahmadiyah telah murtad karena mempercayai Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi. Tapi bukankah sejauh ini mereka belum pernah membangun kekuatan militer untuk merongrong umat Islam dan pemerintahan yang sah seperti Musailamah pada masa khalifah Abu Bakr? Bukankah sejauh ini warga Ahmadiyah hanya menuntut untuk diberi ruang menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinannya? Kalau memang begitu, apakah tidak keliru kalau mereka diperlakukan seperti para pemberontak?
Ditinjau dari perspektif kaidah fiqh “hukum berporos pada alasan”, gerakan pemurtadan oleh para nabi palsu pada masa Abu Bakr memang wajib diperangi, karena saat itu kemurtadan identik dengan pemberontakan yang mengancam kedaulatan khalifah dan integrasi umat. Adapun kalau sekadar murtad saja tanpa dibarengi pemberontakan, hukum yang berlaku tentu tidak sama. Pada titik inilah kita bisa mengacu pada peristiwa korespondensi antara Nabi Muhammad dan Musailamah seperti saya paparkan di awal tulisan.
Di sinilah pemahaman tentang metodologi hukum Islam mutlak diperlukan dalam melihat pokok soalnya. Tanpa pengetahuan yang mumpuni tentang metodologi hukum Islam, keputusan yang muncul dan tindakan yang diambil mungkin saja tampak sesuai dengan ajaran syariat, tapi bisa jadi esensinya bertentangan dengan maqashid al- syari’ah (tujuan-tujuan syariat) yang lebih bersifat universal, seperti perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.
Lagi pula, satu-satunya dalil Al-Quran tentang kemurtadan sama sekali tidak menyeru kaum muslim untuk memerangi kaum murtad semata-mata karena kemurtadannya. Simaklah Surat Ali Imran ayat 90. Ayat ini tidak menyinggung soal perlunya menggunakan cara-cara kekerasan dan paksaan terhadap si murtad, karena Tuhanlah yang akan menjadi hakim atas perbuatannya di akhirat nanti.
Dalam kerangka Qurani semacam inilah kita bisa mengerti kenapa Nabi tidak menghukum Musailamah, yang tanpa tedeng aling-aling mengaku sebagai nabi. Bukan karena beliau mendiamkannya--toh Nabi melabelinya dengan gelar “Al-Kazzab”. Menurut saya, nabi bersikap seperti itu karena, dalam Al-Quran, hukuman terhadap si murtad memang sepenuhnya menjadi hak prerogatif Allah SWT. Nabi Muhammad hanyalah seorang manusia biasa yang bertugas menyampaikan risalah Ilahi. Beliau bukan Tuhan yang turun ke bumi. Itulah sebabnya Al-Quran menegaskan tidak ada paksaan dalam agama.
Kalau Nabi saja demikian sikapnya, alangkah lancangnya Front Pembela Islam (FPI), MUI, dan Menteri Agama yang merasa punya hak untuk mengambil alih wewenang Tuhan untuk mendaulat diri mereka sebagai hakim atas orang-orang yang dianggap murtad seperti terlihat dalam sikap mereka terhadap jemaah Ahmadiyah. Di sinilah saya kira umat Islam mesti memilih dalam bersikap, mau mengikuti cara-cara FPI, MUI, dan Menteri Agama, atau meneladani sikap Rasulullah.
Langganan:
Postingan (Atom)

